Garythain - Menyajikan Inspirasi dan Wawasan Dalam Satu Berita

Loading

Sinopsis The Social Network (2010) Film Dokumenter Tentang Dunia Teknologi Buatan Mark Zuckerberg

Sinopsis The Social Network (2010) Film Dokumenter Tentang Dunia Teknologi Buatan Mark Zuckerberg

Banyak orang salah kaprah dan menganggap The Social Network adalah sebuah film dokumenter. Mari kita luruskan dulu di awal: film ini adalah drama biografi (biopic) yang di adaptasi dari buku The Accidental Billionaires karya Ben Mezrich. Meskipun bukan dokumenter murni yang berisi wawancara orang asli, film arahan David Fincher ini terasa sangat nyata dan “dokumentatif” karena berhasil menangkap esensi revolusi teknologi yang mengubah cara manusia berinteraksi selamanya.

Film ini membawa kita kembali ke musim gugur tahun 2003 di Universitas Harvard. Kita di perkenalkan dengan sosok Mark Zuckerberg (di perankan dengan sangat dingin dan brilian oleh Jesse Eisenberg), seorang mahasiswa jenius yang punya masalah dengan kemampuan sosialnya. Cerita di mulai dari sebuah patah hati yang memicu terciptanya “Facemash”, sebuah situs kontroversial yang membandingkan daya tarik mahasiswi Harvard. Dari sinilah, benih-benih apa yang kita kenal sekarang sebagai Facebook mulai tumbuh. Membawa penonton ke dalam labirin ambisi, pengkhianatan, dan pertarungan hukum bernilai miliaran dolar.


Ambisi Mark Zuckerberg dan Lahirnya TheFacebook

Kekuatan utama film ini terletak pada naskah tajam gubahan Aaron Sorkin. Kita melihat bagaimana Mark, yang merasa di kucilkan dari klub-klub elit Harvard. Mencoba membuktikan diri melalui kecerdasannya di dunia digital. Bersama sahabat karibnya, Eduardo Saverin (Andrew Garfield), Mark membangun pondasi awal sebuah platform bernama “TheFacebook”.

Awalnya, proyek ini terlihat seperti proyek iseng mahasiswa ambisius. Namun, daya ledaknya tidak terduga. Dalam hitungan hari, ribuan mahasiswa Harvard mendaftar. Mark menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada uang saat itu: status sosial. Film ini dengan sangat subjektif menggambarkan bahwa Facebook lahir bukan karena keinginan mulia untuk “menghubungkan dunia” sejak awal, melainkan dari rasa dendam, keinginan untuk diakui, dan obsesi terhadap eksklusivitas.

Baca Juga:
12 Film Biografi Tokoh Dunia yang Mengubah Cara Pandang Penonton

Konflik dengan Winklevoss Bersaudara

Drama semakin memanas ketika si kembar Cameron dan Tyler Winklevoss, bersama rekan mereka Divya Narendra, mengklaim bahwa Mark telah mencuri ide mereka. Mereka sempat menyewa Mark untuk mengerjakan proyek serupa bernama HarvardConnection. Di sinilah sisi gelap dunia startup mulai terlihat.

Apakah Mark benar-benar mencuri ide tersebut, atau dia hanya mengembangkan sebuah konsep yang sudah ada menjadi sesuatu yang jauh lebih fungsional? The Social Network tidak memberikan jawaban hitam-putih, namun mengajak kita melihat bagaimana batas antara inspirasi dan plagiarisme menjadi sangat abu-abu di dunia teknologi yang bergerak sangat cepat.


Masuknya Sean Parker: Sang Provokator Visioner

Jika Eduardo Saverin adalah suara moral dan logika finansial yang hati-hati, maka Sean Parker (Justin Timberlake) adalah bensin yang menyulut api ambisi Mark. Sebagai pendiri Napster, Sean adalah sosok yang glamor, liar, dan visioner. Dia melihat potensi Facebook bukan hanya sebagai situs kampus, melainkan sebagai entitas global yang akan mengubah dunia.

Kehadiran Sean Parker menciptakan jurang pemisah antara Mark dan Eduardo. Sean membisikkan visi-visi besar tentang Silicon Valley, sementara Eduardo tetap ingin menjalankan bisnis dengan cara konvensional. Di titik inilah film menunjukkan bagaimana dunia teknologi bisa sangat kejam; sahabat bisa menjadi musuh, dan loyalitas seringkali di korbankan demi apa yang disebut dengan “skalabilitas”.

Adegan ikonik saat Sean menyarankan Mark untuk menghilangkan kata “The” sehingga hanya menjadi “Facebook” adalah momen kunci yang menunjukkan betapa pentingnya branding dalam ekosistem teknologi.


Drama Hukum di Balik Layar Monitor

Film ini menggunakan struktur penceritaan maju-mundur (non-linear) yang sangat efektif. Kita tidak hanya melihat proses pembuatan Facebook, tapi juga di suguhi adegan-adegan deposisi (kesaksian hukum) di mana Mark harus berhadapan dengan tuntutan dari Winklevoss bersaudara dan, yang paling menyedihkan, tuntutan dari mantan sahabatnya sendiri, Eduardo Saverin.

Melalui adegan-adegan di ruang rapat pengacara ini, kita bisa melihat karakter Mark yang sangat kompleks. Dia tampak tidak peduli dengan uang, namun sangat posesif terhadap ciptaannya. Dia bisa terlihat sangat arogan di depan para pengacara, namun di sisi lain, kita melihat sosok pemuda yang kesepian di puncak kesuksesannya. Ini adalah potret subjektif tentang bagaimana inovasi besar seringkali menuntut bayaran berupa hubungan manusiawi yang retak.


Mengapa Film Ini Tetap Relevan di Era Sekarang?

Meskipun di rilis pada tahun 2010, The Social Network tetap menjadi tontonan wajib bagi siapa pun yang tertarik dengan dunia teknologi dan entrepreneurship. Film ini berhasil menangkap “zeitgeist” atau semangat zaman di mana kode komputer menjadi bahasa kekuasaan yang baru.

  1. Potret Akurat Budaya Startup: Film ini menunjukkan bahwa membangun raksasa teknologi bukan hanya soal koding di kamar asrama, tapi soal manuver politik, pencarian investor, dan kecepatan eksekusi.

  2. Kualitas Sinematografi dan Musik: Arahan David Fincher yang presisi di padukan dengan skor musik elektronik dari Trent Reznor dan Atticus Ross memberikan nuansa tegang yang konstan. Musiknya terasa seperti detak jantung mesin yang tak pernah berhenti.

  3. Karakter yang Manusiawi: Mark Zuckerberg di film ini bukanlah pahlawan, tapi juga bukan sekadar penjahat. Dia adalah representasi dari jenius yang terobsesi, yang mungkin kehilangan arah dalam upayanya mengubah dunia.

Dunia teknologi yang di gambarkan di sini adalah dunia yang maskulin, kompetitif, dan seringkali tidak punya tempat bagi mereka yang bimbang. Kita melihat bagaimana sebuah ide sederhana bisa berubah menjadi kekuatan politik yang bisa menggoyang demokrasi, meskipun pada saat film ini di buat, dampak sosial Facebook belum sekompleks sekarang.


Analisis Karakter: Mark vs. Eduardo

Pertarungan hati dalam film ini sebenarnya bukan antara Mark dan si kembar Winklevoss, melainkan antara Mark dan Eduardo. Eduardo mewakili cara lama dalam berbisnis—mencari iklan, membangun hubungan baik, dan tumbuh secara organik. Mark, di bawah pengaruh Sean Parker, mewakili cara baru: move fast and break things.

Saat Eduardo mendapati bahwa sahamnya di dilusi (dikurangi) hingga hampir nol persen. Penonton bisa merasakan pengkhianatan yang luar biasa. Ini adalah momen paling emosional dalam film yang menunjukkan bahwa dalam dunia kapitalisme teknologi yang agresif. Pertemanan seringkali di anggap sebagai beban atau liabilitas.


Kesan Subjektif Terhadap Sosok Zuckerberg di Layar Lebar

Secara subjektif, menonton The Social Network membuat kita merasa kagum sekaligus ngeri. Kita kagum pada kecerdasan dan fokus seorang pemuda yang bisa membangun kerajaan dari nol. Namun, kita juga di ingatkan bahwa di balik setiap profil yang kita buat, ada algoritma yang di desain untuk terus mengikat kita.

Film ini tidak berusaha menjadi ensiklopedia sejarah Facebook yang kaku. Ia lebih memilih menjadi sebuah tragedi modern tentang seorang pemuda yang ingin memiliki banyak teman secara digital, namun justru kehilangan teman-teman sejatinya di dunia nyata. Adegan terakhir film ini, di mana Mark terus-menerus menekan tombol refresh pada profil mantan kekasihnya, adalah sindiran paling pedas sekaligus puitis tentang kesepian di era konektivitas tanpa batas.

Jika Anda mencari referensi tentang bagaimana ekosistem teknologi Silicon Valley terbentuk. Film ini adalah titik awal yang sempurna. Ia memberikan gambaran mentah tentang energi, ego, dan inovasi yang melahirkan raksasa-raksasa teknologi yang menguasai hidup kita hari ini.

Sinopsis The Pursuit of Happyness (2006), Kisah Nyata Perjuangan Chris Gardner Demi Masa Depan Anaknya

Sinopsis The Pursuit of Happyness (2006), Kisah Nyata Perjuangan Chris Gardner Demi Masa Depan Anaknya

Siapa sih yang nggak kenal dengan akting brilian Will Smith di film The Pursuit of Happyness? Film yang rilis tahun 2006 ini bukan sekadar tontonan akhir pekan biasa, tapi sebuah tamparan keras buat kita yang sering merasa pengen menyerah sama keadaan. Di angkat dari memoar nyata seorang pria bernama Chris Gardner, film ini membawa kita menyelami palung terdalam kemiskinan hingga puncak kejayaan yang manis.

Film ini berlatar di San Francisco tahun 1981. Kita di ajak berkenalan dengan Chris Gardner, seorang salesman yang hidupnya lagi di ujung tanduk. Dia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli stok alat pemindai kepadatan tulang portabel (bone density scanners). Masalahnya, alat ini di anggap barang mewah yang nggak terlalu di butuhkan para dokter karena harganya mahal dan hasilnya cuma sedikit lebih baik dari X-ray biasa. Dari sinilah, “roller coaster” emosi dimulai.

Awal Mula Kehancuran: Ketika Dunia Terasa Tidak Adil

Bayangkan kamu sudah bekerja keras setiap hari, tapi dompet tetap kosong, tagihan pajak menumpuk, dan sewa apartemen sudah nunggak berbulan-bulan. Inilah realitas pahit yang dihadapi Chris. Istrinya, Linda (di perankan oleh Thandie Newton), sudah sampai pada titik jenuh yang luar biasa. Dia lelah bekerja double shift di laundry hanya untuk menutupi kekurangan suaminya yang “jualan mimpi.”

Ketegangan di rumah tangga mereka terasa sangat nyata. Film ini dengan jujur menunjukkan bahwa cinta saja nggak cukup kalau perut lapar dan tagihan listrik belum dibayar. Akhirnya, Linda memutuskan untuk pergi meninggalkan Chris dan anak laki-laki mereka yang masih kecil, Christopher Jr. (di perankan oleh Jaden Smith).

Momen ketika Linda pergi adalah titik balik yang sangat menyedihkan. Chris kini menjadi orang tua tunggal (single parent) tanpa penghasilan tetap, tanpa istri, dan hampir tanpa rumah. Namun, satu hal yang nggak pernah hilang dari diri Chris adalah tekadnya untuk memberikan kehidupan yang layak buat anaknya.

Baca Juga:
12 Film Biografi Tokoh Dunia yang Mengubah Cara Pandang Penonton

Peluang di Tengah Keputusasaan: Magang Tanpa Gaji

Di tengah kekacauan hidupnya, Chris melihat seorang pria turun dari mobil Ferrari merah yang mewah. Dengan rasa penasaran yang jujur, Chris bertanya dua hal: “Apa pekerjaanmu?” dan “Bagaimana caramu melakukannya?” Pria itu menjawab bahwa dia adalah seorang pialang saham (stockbroker).

Sejak detik itu, Chris punya tujuan baru. Dia ingin masuk ke program magang di perusahaan pialang saham ternama, Dean Witter Reynolds. Masalahnya? Program magang itu di ikuti oleh 20 orang terpilih, berlangsung selama 6 bulan, dan yang paling gila: tidak dibayar. Hanya satu orang terbaik dari 20 peserta yang akan di terima bekerja tetap.

Bagi orang waras, mengambil risiko magang tanpa gaji saat sedang bangkrut adalah tindakan bunuh diri. Tapi bagi Chris, ini adalah satu-satunya pintu keluar dari kemiskinan. Dengan kemampuan matematika yang tajam dan keahlian menyusun rubik—yang saat itu sedang tren—ia berhasil memukau salah satu manajer senior dan mendapatkan posisi magang tersebut.

Hidup dari Satu Shelter ke Shelter Lainnya

Bagian paling menyayat hati dalam The Pursuit of Happyness adalah saat Chris dan Christopher terusir dari apartemen, lalu dari motel murah, hingga akhirnya benar-benar menjadi tunawisma. Ada satu adegan ikonik yang pasti bikin siapa pun mewek: saat mereka terpaksa tidur di toilet stasiun kereta bawah tanah (BART).

Chris harus berpura-pura kepada anaknya bahwa mereka sedang melakukan perjalanan waktu ke masa prasejarah dan toilet itu adalah gua persembunyian dari dinosaurus. Di balik pintu toilet yang di gedor-gedor orang dari luar, Chris menangis dalam diam sambil memeluk anaknya. Ini adalah gambaran betapa hancurnya harga diri seorang ayah yang tidak bisa memberikan tempat tidur layak bagi anaknya, tapi tetap berusaha menjaga “keajaiban” di mata sang anak.

Setiap sore, Chris harus berlari secepat kilat setelah selesai magang hanya untuk mengantre di rumah singgah (shelter) tunawisma. Kalau datang terlambat sedikit saja, mereka nggak akan dapat tempat tidur dan terpaksa tidur di jalanan. Di siang hari dia memakai jas rapi dan menelepon klien potensial, di malam hari dia harus mengantre jatah makan gratis. Kontras kehidupan ini di gambarkan dengan sangat apik oleh sutradara Gabriele Muccino.

Filosofi “Happyness” dan Salah Ketik yang Ikonik

Kamu mungkin sadar kalau judul film ini menggunakan huruf “y” (Happyness) bukannya “i” (Happiness). Ini bukan kesalahan ketik tim produksi, melainkan diambil dari coretan di dinding tempat penitipan anak Christopher Jr. Chris sempat memprotes pemilik tempat tersebut karena ejaan yang salah itu.

Secara filosofis, film ini mempertanyakan: apakah kebahagiaan itu sesuatu yang bisa kita miliki, ataukah sesuatu yang selamanya hanya bisa kita “kejar” (pursuit)? Chris Gardner percaya bahwa kebahagiaan bukanlah pemberian, melainkan hasil dari perjuangan yang berdarah-darah. Dia belajar bahwa untuk mencapai kata “Bahagia” dengan ejaan yang benar, dia harus melewati masa-masa penuh kesalahan dan kegagalan.

Etos Kerja yang Gila-gilaan

Di kantor Dean Witter, Chris punya keterbatasan di banding peserta magang lainnya. Dia tidak punya waktu sebanyak mereka karena harus menjemput anaknya dan mengantre di shelter. Maka, Chris memutar otak. Dia tidak pernah meletakkan gagang telepon saat melakukan cold calling untuk menghemat beberapa detik. Dia juga tidak minum air agar tidak perlu membuang waktu ke kamar mandi.

Chris adalah definisi nyata dari work smarter and harder. Dia mengincar klien-klien besar yang sulit ditembus dengan cara yang lebih personal. Meski sering di pandang sebelah mata karena penampilannya yang kadang lusuh (pernah suatu kali dia datang wawancara dengan baju penuh cat karena baru keluar dari penjara akibat nunggak tiket parkir), kecerdasannya tetap bersinar.

Pelajaran Hidup dari Karakter Chris Gardner

Apa yang membuat film ini tetap relevan sampai sekarang? Jawabannya adalah pesan moralnya yang universal. Ada satu kutipan legendaris yang di ucapkan Chris kepada anaknya di lapangan basket:

“Jangan biarkan siapa pun memberitahumu bahwa kamu tidak bisa melakukan sesuatu. Bahkan aku pun tidak boleh. Kamu punya mimpi, kamu harus menjaganya. Orang-orang yang tidak bisa melakukan sesuatu sendiri akan memberitahumu bahwa kamu juga tidak bisa. Jika kamu menginginkan sesuatu, pergi dan dapatkan. Titik.”

Pesan ini bukan cuma buat Christopher Jr., tapi buat kita semua. Seringkali, hambatan terbesar kita bukan berasal dari faktor eksternal, melainkan dari omongan orang lain yang kita masukkan ke dalam hati. Chris membuktikan bahwa latar belakang pendidikan, kemiskinan, dan nasib buruk bisa di kalahkan oleh kegigihan yang tidak masuk akal.

Mengapa Film Ini Wajib Ditonton Ulang?

Meskipun film ini sudah berusia hampir dua dekade, The Pursuit of Happyness tetap punya daya tarik yang kuat. Pertama, chemistry antara Will Smith dan Jaden Smith sangat natural karena mereka adalah ayah dan anak kandung di dunia nyata. Rasa sayang, frustrasi, dan harapan yang terpancar di mata mereka terasa sangat jujur.

Kedua, film ini tidak mencoba menjadi film “pemberi harapan palsu.” Kita di perlihatkan proses yang sangat melelahkan. Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba jatuh dari langit. Kesuksesan Chris adalah akumulasi dari setiap tetes keringat, lari jarak pendek mengejar bus, dan keberanian untuk tetap tersenyum meski dunia sedang tidak ramah.

Ketiga, film ini mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Melihat perjuangan Chris mencari tempat tidur setiap malam akan membuat kita sadar bahwa hal-hal kecil yang kita miliki saat ini adalah kemewahan bagi orang lain.

Menuju Puncak Pencapaian

Setelah enam bulan yang penuh penderitaan dan kerja keras, tibalah hari pengumuman. Chris di panggil ke dalam ruangan oleh para petinggi perusahaan. Di momen ini, jantung penonton seolah ikut berhenti berdetak. Ketika salah satu petinggi mengatakan, “Besok pakailah baju yang bagus, karena besok adalah hari pertama kerjamu,” kita bisa melihat ekspresi Will Smith yang luar biasa.

Matanya berkaca-kaca, suaranya tercekat. Dia tidak berteriak kegirangan, tapi ada beban berat yang seolah luruh dari pundaknya. Dia keluar dari gedung, berjalan ke tengah kerumunan orang di trotoar, dan bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Itulah momen “Happyness” yang sebenarnya. Dalam film The Pursuit of Happyness, dia berhasil bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk masa depan anaknya.

Kisah nyata Chris Gardner aslinya bahkan lebih luar biasa. Dia kemudian mendirikan perusahaan pialang sahamnya sendiri, Gardner Rich & Co, dan menjadi jutawan yang dermawan. Film ini berhasil menangkap esensi dari perjuangan manusia yang paling mendasar: bertahan hidup dan melindungi orang yang di cintai.

Bagaimana menurutmu, apakah perjuangan Chris Gardner ini adalah bentuk keberuntungan atau murni kerja keras? Kalau kamu lagi butuh asupan motivasi untuk mengejar mimpimu, menonton ulang film ini adalah pilihan yang sangat tepat.

Sinopsis Film Parasite 2019, Drama Satir Keluarga Kaya dan Miskin

Sinopsis Film Parasite 2019: Drama Satir Keluarga Kaya dan Miskin

Parasite (judul asli: Gisaengchung) adalah film asal Korea Selatan yang di rilis tahun 2019 dan disutradarai oleh Bong Joon-ho. Film ini nggak cuma menangin hati para penonton, tapi juga sukses meraih Palme d’Or di Festival Film Cannes dan Best Picture di Oscar 2020 pertama kalinya film berbahasa non-Inggris menang di kategori tersebut. Tapi bukan cuma prestasinya yang bikin Parasite menarik, melainkan ceritanya yang nyindir banget soal kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Simak di sini sinopsis film Parasite 2019 yang lengkap.

Keluarga Kim hidup di sebuah semi-basement yang lembap dan pengap. Mereka adalah potret keluarga miskin di kota besar: ayah Kim Ki-taek, ibu Chung-sook, anak lelaki Ki-woo, dan anak perempuan Ki-jung. Mereka kerja serabutan demi bisa makan sehari-hari, mulai dari lipat kotak pizza sampai nyolong Wi-Fi tetangga.

Simak Disini Sinopsis Film Parasite 2019

Suatu hari, nasib keluarga ini mulai berubah ketika Ki-woo di tawari kerja sebagai guru les privat bahasa Inggris untuk anak dari keluarga super kaya, keluarga Park. Dengan modal nekat dan hasil editan dokumen palsu, Ki-woo pun resmi masuk ke dunia yang sama sekali beda dari kehidupannya.

Infiltrasi Diam-Diam: Dari Guru Les ke Seluruh Keluarga

Setelah Ki-woo berhasil masuk ke rumah mewah keluarga Park, dia melihat peluang. Perlahan tapi pasti, dia bawa satu per satu anggota keluarganya masuk juga ke rumah itu, masing-masing dengan identitas palsu. Ki-jung menjadi guru seni untuk anak bungsu keluarga Park, Chung-sook jadi pembantu rumah tangga, dan Ki-taek akhirnya jadi sopir pribadi.

Menariknya, keluarga Park sama sekali nggak sadar kalau semua “karyawan baru” mereka sebenarnya adalah satu keluarga. Ini yang bikin penonton terjebak antara lucu, tegang, dan miris. Di balik semua ini, ada permainan peran dan manipulasi yang elegan tapi juga bikin deg-degan.

Baca Juga:
Sinopsis Film Hereditary (2018), Teror Mengerikan Dari Leluhur Satu Keluarga

Ketegangan Meningkat: Rahasia di Bawah Tanah

Kalau kamu kira cerita ini cuma soal penyusupan keluarga miskin ke rumah orang kaya, kamu salah besar. Di paruh kedua film, alurnya mulai gelap dan makin intens. Ternyata, ada rahasia besar di rumah keluarga Park yang bahkan pemiliknya sendiri nggak tahu. Ada bunker bawah tanah tersembunyi, dan di sanalah plot twist besar film ini di mulai.

Rahasia ini ngebuka banyak pertanyaan tentang siapa sebenarnya “parasit” dalam cerita ini. Apakah keluarga Kim yang memanfaatkan keluarga Park? Atau justru sistem sosial yang memaksa orang-orang miskin untuk bertahan hidup dengan cara yang licik?

Satir Sosial yang Ngena Banget

Bong Joon-ho di kenal suka menyisipkan kritik sosial dalam film-filmnya, dan Parasite adalah puncaknya. Film ini nunjukin gimana kelas sosial bisa memengaruhi cara pandang, perilaku, dan bahkan hak hidup seseorang. Keluarga Park yang kaya hidup nyaman di rumah mewah dengan halaman luas, sementara keluarga Kim harus mencium bau WC dari dapur dan kebanjiran air comberan.

Ada momen-momen kecil tapi menyakitkan, seperti saat keluarga Park mengomentari “bau khas orang miskin” atau saat hujan deras di anggap menyenangkan bagi keluarga kaya, tapi bencana buat keluarga miskin.

Akting Kelas Dunia dan Penyutradaraan Brilian

Salah satu hal paling mencolok dari Parasite adalah aktingnya yang luar biasa natural. Song Kang-ho yang memerankan ayah Ki-taek tampil kuat dan mengundang simpati. Setiap karakter punya lapisan emosi yang dalam dan bikin penonton sulit sepenuhnya menyalahkan atau membenarkan siapa pun.

Penyutradaraan Bong Joon-ho juga layak di acungi jempol. Dia bisa menggabungkan berbagai genre dalam satu film mulai dari drama, komedi hitam, thriller, sampai horor psikologis tanpa terasa janggal. Perpindahan tone-nya mulus dan bikin penonton terus terpaku di layar.

Bukan Sekadar Film, Tapi Cerminan Realita

Banyak orang mungkin menonton Parasite sebagai hiburan, tapi di balik itu, film ini adalah refleksi menyakitkan dari realita sosial yang ada di banyak negara, termasuk Indonesia. Ketimpangan ekonomi, privilege, dan perjuangan hidup orang miskin yang sering di anggap “mengganggu” oleh kelas atas, semuanya di tampilkan dengan cara yang mengena dan bikin mikir.

Parasite bukan film yang menggurui. Justru karena di sajikan dengan cara yang cerdas dan penuh ironi, kritik sosial dalam film ini terasa lebih tajam. Dan yang paling bikin “ngena”, film ini bikin kita sadar: dalam sistem yang timpang, semua orang bisa jadi parasit entah secara terang-terangan atau diam-diam.